DUNIA USAHA SEBAGAI AKTOR UTAMA

Gubernur menjelaskan bahwa aktor utama dari pembangunan industri tersebut adalah dunia usaha yang berkembang baik. Oleh karena, STIP menurut Doktor Zul merupakan trigger awal industrialisasi di NTB. Jika industrialisasi adalah proses besar untuk menambah nilai tambah, maka membutuhkan inovasi teknologi. Strategi industrialisasi, menurut Gubernur, perlu menggunakan pendekatan Import substitusional dan pendekatan Eksport. Pendekatan import Substitusional menurut Gubernur, adalah dimulai dari belajar dari negara-negara yang sudah maju. "Kita ambil satu produk teknologinya, kemudian pembelajaran dilakukan dengan metode ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi)", ujarnya.

Disinilah perlunya lembaga riset daerah harus mampu bekerja sama dengan dunia industri. Selanjutnya, kita akan lebih banyak mengirim atau mengeksport produk-produk kita dalam bentuk barang jadi. Kita harus memastikan Nusa Tenggara Barat itu sehat, hangat, dan aman untuk investasi dan dunia usaha. Karenanya, Tugas pemerintah dan dunia pendidikan adalah menciptakan agar dunia usaha itu nyaman untuk lahirnya industri dan dunia usaha, ungkap Gubernur. STIP sebagai Model Sebuah program unggulan pemerintah Provinsi NTB, sesuai janji politik Pemerintahan Zul - Umi Rohmi yang saat ini fokus pada pengembangan taman pendidikan di Science Technology Industrial Park (STIP). Sebelumnya bernama Agro Edu Wisata. Pengembangan STIP merupakan satu diantara 15 komitmen Gubernur yang langsung mendapat perhatian. Gubernur berharap, STIP nantinya tidak hanya berdiri di Pulau Lombok, akan tetapi akan lahir Technopark-Technopark lainnya yang tersebar di Pulau Sumbawa. Ia menjadi model pembangunan ekonomi dan iklim investasi yang berkembang baik di NTB. STIP juga merupakan salah satu program 100 hari Gubernur, dan telah di launching secara resmi pada acara ulang Tahun NTB ke-60 pada 17 Desember 2018. Sebagai sebuah program unggulan, pengembangan STIP diharapkan akan menjadi rujukan bagi Technopark di seluruh Indonesia.

STIP dimulai dengan langkah awal pada pengembangan industri permesinan dan pendirian Hotel SMK yang nantinya akan langsung dikelola oleh lulusan SMK di NTB. Beberapa target yang mencakup program –program yang akan dikembangkan pada STIP. Target pertama adalah pada masalah produk, yang kedua sertifikasi produk, kemudian informasi, wirausaha baru, kerjasama dan bisnis proses, serta tempat belajar dan wisata. Sedangkan program-program yang akan dijalankan pada masing-masing target antara lain adalah, pabrikasi produk permesinan, training/kursus wirausaha, uji pasar produk IKM, bisnis model (Hulu hilir), NTB Miniatur, serta Taman Edukasi dan Teknologi. Adapun instansi yang dilibatkan pada pengembangan STIP nantinya adalah Dinas Perindustrian, Dinas Kominfo, Dinas Koperasi dan UKM, SMK Pariwisata, Dinas Perdagangan, serta beberapa OPD serta pihak terkait lainnya. Struktur organisasi yang dilibatkan meliputi Direktur, Manager Umum Dan Keuangan, Manager Edukasi dan Wisata, Manager Pengembangan Teknologi dan Inovasi serta Manager Kerjasama dan Bisnis Proses. Sekda NTB, H.Rosiady M.Sayuti, P.hD saat memberi arahan pada Rapat penyusunan Roadmap industrialiasasi di Ruang Melati Kantor Gubernur NTB (22/4-2019), menegaskan STIP diarahkan untuk menyediakan permesinan.Diharapkan fokus pada industri yang potensial, tegas Pak Ros (sapaan akrabnya). Sehingga hasilnya tampak nyata. Contohnya pada hilirisasi sektor pertanian. Jika fokus pada jagung maka STIP akan fokus menyediakan mesin pengolahan jagung, terangnya. Ia mencontohkan seorang pengusaha lokal, Ihwam dari Lombok Timur, yang sudah punya workshop pembuatan berbagai mesin seperti mesin pemipil jagung, perontok padi, traktor, dan alsintan lainnya, yang kualitasnya tidak kalah dengan produk daerah lain.

Hal seperti itulah, menurut Pak Ros yang bisa dimaksukkan kedalam roadmap industrialisasi. Jadi fokus kita pada industri alat dan mesin pertanian. Sehingga kedepan, untuk kebutuhan hilirisasi produk pertanian, peternakan kelautan, mesinnya sudah tersedia, ujarnya. Progam aksi yang sudah disepakati dengan Dirjen perindustrian adalah pembangunan pabrik pakan mini dengan nilai investasi sebesar Rp.5 Milyar lebih. Namun yang perlu dipastikan adalah ketersediaan bahan baku, disamping pemasaran. Jangan sampai karena ketidaksediaan bahan baku, maka mesin/pabrik yang ada, tidak bisa beroperasi. Sekda mengingatkan untuk merancang hal ini membutuhkan keterlibatan stakeholder terkait. Misalnya untuk menyusun kebutuhan industri tenun, maka mesin apa yang kita dibutuhkan, sehingga perlu pelibatan semua pihak yang selama ini terjun didalamnya. Tentu hal ini harus dimulai dari sektor-sektor unggulan. Karena tidak semua sektor dapat kita sentuh sekaligus, pungkas Sekda. BPS NTB mengungkapkan bahwa berdasarkan data sensus BPS, 99 persen industri di NTB adalah UMKM dan sisanya industri menengah dan besar. Kontribusi industri masih berkisar 5 persen. Karena itu, pihaknya siap memberikan dukungan data untuk memetakan potensi industri di NTB yang berpeluang untuk dikembangkan dan dituangkan kedalam roadmap. Hal senada diungkapkan BI Perwakilan NTB yang mengusulkan pentingnya industrialisasi di sektor pariwisata. Mengingat potensi sektor pariwisata di NTB sangat potensial dalam mewujudkan NTB Gemilang ekonomi. Perlu Perubahan Mindset Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Siti Rohmi Djalilah sangat setuju dan mendukung dengan apa yang disampaikan gubernur. Karenanya, organisasi perangkat Daerah (OPD) perlu melakukan perubahan mindset, dan meninggalkan ego sektoral. Sebab konsep yang disampaikan oleh gubernur adalah konsep besar, yang harus mampu kita jalankan.

"Kita harus mampu merencanakan tahun pertahun dari program kerja kita. Semua kepala OPD harus benar-benar responsif terhadap berbagai hal yang terjadi dalam mendukung iklim industrialisasi di NTB," jelas Wagub Untuk mengembangkan industrialisasi, kita harus berangkat dari keadaan riil di daerah kita, lanjut Hj. Rohmi. "Perencanaan dan pengembangan harus diawali dengan potensi yang ada di daerah ini. Kuncinya adalah koordinasi, komunikasi dan kerjasama seluruh stakeholder di daerah ini. Mindset kita harus beralih sebagai yang melayani," tutup Hj. Rohmi. (G Aryadi - Tim Media)