Geopark Rinjani & Mitigasi Bencana Geologi

Simposium internasional Asia Pacific Geopark Network  (APGN) 2019 yang digelar di Lombok, NTB (31/8 hingga 6/9-2019) membahas beberapa topik utama. Diantaranya, memperkuat sosial ekonomi masyarakat lokal untuk pengembangan lingkungan geopark. Kemudian pelibatan masyarakat dan komunitas dalam menangani resiko bencana geologi dan pemulihannya. Serta mengenalkan ilmu pengetahuan tentang lingkungan kepada public, promosi geopark lokal sebagai global geopark dan lanskap jaringan gunung api geopark global.
    
Seperti diketahui, Geopark Rinjani terdampak bencana gempa setahun lalu. Oleh karena itu sangatlah relevan salah satu topik yang dibahas oleh para geolog yang berasal dari negara-negara di kawasan Asia pasifik itu, yakni penanganan bencana geologi dan pemulihannya. Dari hasil itu kita berharap ajan tersedia refrensi yang memadai untuk mengedukasi dan melibatkan masyarakat dalam mitigasi bencana geologi.

Pemetaan detail potensi bahaya yang selanjutnya dijadikan dasar dalam mendesign upaya mitigasinya, sangatlah penting dan mutlak dilakukan. Sehingga ketika terjadi bencana, jatuhnya korban dapat diminimalisir.

Ketua IAGI NTB,  Kusnadi menjelaskan ada 3 potensi bahaya geologi di kawasan Gunung Rinjani. Yaitu potensi gempa bumi, tanah longsor dan gunungapi. Beberapa pihak seperti DPH Geopark Rinjani-Lombok dan Dinas LHK Provinsi NTB juga menyoroti perlunya managemen kebersihan yang lebih baik di Rinjani sehingga kasus-kasus penumpukan sampai di puncak dapat dihindari kedepannya termasuk aspek sosial ekonomi sebagai sumber penghidupan masyarakat disekitar Rinjani sebagai obyek wisata maupun lainnya.

Kepala Taman Nasional Gunung Rinjani, Sudiyono menyampaikan bahwa belajar dari kejadian Gempa Bumi tahun 2018, TNGR secara bertahap akan berupaya untuk menyiapkan standar keaman yang baik untuk pendakian mulai dari safety check sebelum pendakian mulai dari kesehatan, perlengkapan pendakian sampai pemberian informasi-informasi mitigasi yang penting saat melakukan pendakian. Begitu juga dengan prosedur tetap dalam upaya evakuasi pengunjung yang mendapatkan masalah dijalur Rinjani yang melibatkan multi pihak. 

Ia juga menghimbau travel organizer yang membawa wisatawan dapat lebih terampil dalam mitigasi dan mampu mensosialisasikan kepada wisatawan sebelum melakukan pendakian. 

Senada dengan Sudiyono, Ketua IAGI-NTB, Kusnadi menambahkan, potensi kejadian gempa bumi besar memang relatif kecil setelah kejadian gempa bumi tahun 2018. Tetapi dengan kejadian gempa bumi itu akan menimbulkan potensi gempa bumi menengah sampai rendah dengan Magnitudo 5 ke bawah, potensi longsor dari retakan – retakan yang telah terbentuk akibat gempa bumi sebelumnya perlu diantisipasi dengan memasang penanda yang jelas dan dalam bentuk yang lebih moder seperti dengan menambahkan QR Code. Sehingga lebih banyak informasi yang bisa diberikan.

Letusan gunungapi untuk saat ini potensinya hanya dalam radius 1,5 km dari Gunung Barujari sehingga bukan merupakan ancaman yang terlalu serius memingat pengunjung tidak boleh turun ke danau Segara Anak.

Selain upaya konservasi sebagai bentuk perlindungan terhadap lingkungan, mitigasi bencana dimaksudkan pula perlindungan kepada manusia sebagai pengelola lingkungan. Tujuannya adalah kesejahteraan. Untuk itu, sebagai pola yang berkelanjutan, mitigasi penting dilakukan dengan melibatkan komunitas terkecil di desa sampai dengan penggunaan anggaran Dana Desa dalam RPJMD dan RPJMDes.

Peranan penting desa/kelurahan dalam lingkungan geopark sebagai upaya pengurangan risiko bencana, diharapkan para pihak dapat mempersiapkan diri jauh hari sebelumnya dengan cara adaptasi dan mitigasi melalui perencanaan dan kebijakan anggaran terhadap penanggulangan bencana.

Kabupaten Lombok Tengah misalnya, memiliki potensi terhadap ke empat jenis bencana alam geologi yaitu Gempa Bumi, Tsunami, Gunungapi dan Gerakan Tanah dengan tingkat potensi yang berbeda-beda. Contoh, bagian Selatan Lombok Tengah seperti Awang, Kuta, dan Selong Belanak memiliki potensi yang cukup tinggi terhadap tsunami karena pantai-pantainya langsung menghadap samudra Hindia tempat bersemayamnya megathrust. Sedangkan potensi gempa bumi seperti dikatakan Kusnadi, berada pada level menengah sampai rendah karena jarak dari sumber gempa bumi yang jauh dan jenis batuan di Kabupaten Lombok Tengah didominasi oleh Batuan Vulkanik berumur jutaan tahun yang telah mengalami pengerasan sehingga mampu lebih meredam getaran gempa bumi. Kecuali bagian Utara seperti Batukliang Utara memiliki potensi yang lebih besar karena disusun oleh endapan vulkanik gunung Rinjani yang masih terbilang muda dan kurang terkonsolidasi.

Untuk potensi dampak letusan gunungapi di Kabupaten Lombok Tengah bagian utara relatif rendah yaitu hanya berpotensi terhadap aliran lahar dan banjir bandang sedangkan dampak langsung seperti jatuhan batupijar, awan panas, lava dan gas beracun tidak sampai tempat ini. Potensi gerakan tanah di Kabupaten Lombok Tengah didominasi oleh potensi rendah dibagian tengah dan sebagian tempat yang memiliki tingkat kelerengan yang besar seperti bagian Utara yang dekat dengan gunung Rinjani dan perbuktian bagian Selatan berpotensi sedang sampai tinggi.

Menurutnya, hal penting dilakukan adalah meningkatkan upaya mitigasi di desa-desa yang memiliki potensi bencana alam geologi melalui upaya edukasi, penyadaran, kampanye dan menerapkan aturan atau awik-awik desa terutama dalam pembangunan desa tangguh bencana.

Mengacu pada Permendes No. 16 Tahun 2018, prioritas penggunaan dana desa untuk kegiatan Adaptasi dan Mitigasi memberikan kemudahan dalam upaya pengurangan risiko bencana dengan penganggaran melalui dana desa. 
Minimal 1 % dari dana desa harus dianggarkan untuk upaya pengurangan risiko bencana sehingga tercipta desa tangguh bencana. Sekaligus juga terciptanya sinergi antara program pemerintah pusat dan pemerintah daerah kabupaten/ kota. Dengan demikian, kelestarian yang terjaga sebagai obyek wisata geopark dapat memberikan kesejahteraan dan mempercepat pemulihan situs geopark jika terjadi bencana. ---(Diskominfotik)---