Hargailah Pengorbanan Tenaga Kesehatan Tangani Covid-19

Tenaga Kesehatan (Nakes) di seluruh NTB telah memberikan pelayanan serta pengorbanan yang terbaik untuk merawat pasien-pasien positif Covid-19. Sehingga nyawa mereka menjadi taruhan dibalik pandemi wabah Corona yang tak tahu kapan akan segera berakhir. Mengetahui ancaman itu, tak menyurutkan semangat mereka untuk tetap melayani pasien Covid-19 meski keluarga di rumah sangat khawatir dengan keselamatan mereka.

Begitu juga dengan pelayanan yang diberikan oleh mereka sudah sesuai dengan prosedur dan standar protokol kesehatan yang ditentukan. Tenaga kesehatan berada di garda terdepan yang berjibaku dengan penanganan Covid-19. Proteksi diri menjadi hal yang paling utama untuk  diperhatikan oleh Nakes dalam hal melindungi diri. Tentu dengan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) standar kesehatan.

"Teman-teman tenaga kesehatan berjuang keras untuk memberikan pelayanan yang terbaik. Baik di Provinsi maupun di kabupaten kota, mereka bekerja keras. Maka hargailah pengorbanan mereka," ungkap Sekda NTB, H. Lalu. Gita Aryadi yang dampingi Dirut RSUP NTB, Kadis Kesehatan dan Kadis Kominfotik NTB saat jumpa pers di gedung sangkareang, Rabu (27/05).

Namun dibalik pengorbanan yang mereka lakukan, kata pria yang akrab disapa Miq Gita, mereka memiliki resiko yang rentan terpapar Covid-19. Hingga saat ini, terdapat puluhan tenaga kesehatan yang sudah terpapar atau terjangkir Covid-19 yang tersebar dibeberapa rumah sakit di NTB.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, Dr. Nurhandini Eka Dewi, Sp.A mengakui, meski tenaga kesehatan memiliki APD yang cukup memadai. Ternyata tanpa terkecuali bisa terinfeksi Covid-19, pada awal Mei tenaga kesehatan mulai ada yang positif Covid-19. 

"Sampai hari ini, ada 67 orang Nakes kita yang terkonfirmasi positif Corona yang tersebar di 7 sarana kesehatan di NTB. Baik itu dokter spesialis, apoteker, perawat dan tenaga kesehatan lainnya," ungkapnya.

Ia menjelaskan, jika Nakes banyak yang positif masalahnya adalah kalau satu orang Nakes dalam satu kelompok atau grup kerja yang positif. Karena dalam satu kelompok Nakes ada sekitar 10 orang, maka yang lain pasti akan di-Off-kan atau diisolasi sampai pada proses kesembuhan. Otomatis memiliki dampak yang besar terhadap pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Dari jumlah tersebut, ada 3 Nakes yang sudah sembuh. Sehingga 64 Nakes masih dirawat.

"Mereka juga sebagai manusia biasa yang memiliki batas kekuatan. Untuk itu, mohon doa masyarakat agar tenaga medis cepat diberikan kesembuhan. Karena beberapa di antaranya sudah contak dengan keluarga mereka," katanya. 

dr. Eka sapaan akrabnya mengungkapkan, selama penanganan Covid-19 di NTB minimal tenaga medis memakai APD level II dan level III yang terdiri dari fase shield, Fesil, Vesil Helmet, sarung tangan dan alat pendukung APD lainnya yang memiliki standar kesehatan. Namun ternyata masih bisa terpapar Covid-19. 

Sedangkan tenaga kesehatan dilihat dari jumlah transmisi lokal sudah lebih banyak dari pada penularan primer. Artinya, transmisi lokal sudah mencapai 56 persen, penularan primer sebanyak 44 persen "Waspadalah, tenaga kesehatan yang sudah memakai APD begitu lengkapnya masih bisa terpapar. Apalagi kita, masih berani tidak pakai masker," tegas dr. Eka.

Selain itu, Kepala Dikes NTB itu, menyebutkan bahwa pandemi Covid-19 di NTB kemungkinan akan mengalami masa puncak pada bulan Juni hingga Juli. Prediksi itu didasari dari beberapa simulasi dan skema yang di lakukan ahli virologi. Sedangkan trend penurunannya diperkirakan mulai mereda pada Agustus.  Sehingga setelah bulan Agustus jumlah pasien corona juga kemungkinan kecil. (man@kominfo)