HATI-HATI SERAP ILMU YANG TAK JELAS SUMBERNYA

Dalam lawatan silaturahim selama dua hari di Provinsi Jawa Timur, Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi dan rombongan berkunjung ke Pondok Pesantren Sawahan Mojosari, Mojokerto, Jawa Timur, Sabtu sore (22/07/2017). Kunjungan di Ponpes yang diasuh KH. Ali Masahadi itu merupakan lokasi ketiga yang dikunjungi TGB, setelah sebelumnya menghadiri Ngaji Bareng TGB di Ponpes Masyithoh Mojekerto dan juga sempat bersilaturahmi di kediaman mantan Menteri BUMN, Dahlah Iskan.

Ponpes Sawahan Mojosari itu sendiri, menurut TGB, memiliki hubungan keilmuan yang sangat erat (sanad) antara ilmu yang diperoleh mendiang Syaikh TGH. Zainudin Abdul Madjid dengan KH. Ali Masahadi, Pengasuh Ponpes Sawahan itu.

Saat itu di hadapan ratusan santri dan ustadz, dalam tausiyahnya TGB mengingatkan agar berhati-hati menyerap ilmu yang tidak jelas sanad atau sumbernya. Seperti yang tersebar di media sosial maupun koran dan majalah saat ini. Karena, tidak sedikit ilmu yang dimuat dan diperoleh dalam media tersebut tidak jelas sanad dan sumbernya.Walaupun ada sebagian ilmu yang memang benar dan bermanfaat, pesan TGB.

Lebih jauh Gubernur yang juga Al Hafiz itu menjelaskan bahwa ilmu yang baik dan bermanfaat adalah ilmu yang diperoleh dari sanad atau garis yang jelas. Jika ilmu yang dipelajari memiliki sanad yang jelas maka ilmu itu ibarat pipa yang mengalirkan air dari hulu ke hilir. Kemurniannya akan terjaga dan tidak terkontaminasi oleh apapun, tegasnya. Sebaliknya ilmu yang tidak jelas sanad atau garisnya, kata TGB maka dapat ditafsirkan sembarangan ataupun mengalami pembelokan makna dari yang sesungguhnya.

TGB juga menjelaskan bahwa sanad yang jelas akan mengantarkan penuntut ilmu mendapatkan penjelasan utuh terhadap ilmu yang dipelajari. Lain halnya dengan ilmu yang diperoleh dari sanad yang tidak jelas, akan menimbulkan multi tafsir yang menyebabkan ilmu tersebut tidak bermanfaat. Karena itu, TGB mengingatkan kepada seluruh santri agar berhati-hati menyerap ilmu yang tidak jelas sanadnya.

Lebih lanjut TGB, mengajak kepada semua hadirin, dalam menjalani kehidupan untuk selalu mengedepankan kasih sayang. Sebagaimana yang ditunjukkan baginda Nabi Besar Muhammad SAW ketika menjalankan dakwahnya di masyarakat arab badui yang pada zaman itu terkenal dengan sikap kasar, tidak menghargai wanita dan anak anak.

TGB kemudian menguraikan bahwa Nabi Muhammad dalam menjalankan amanah sebagai rasul di dunia telah ditanamkan dalam dada beliau kasih sayang oleh Allah Swt sebagaimana yang disebutkan dalam salah satu hadits.

“Kasih sayang yang ditanamkan dalam diri rasul adalah bagian kasih sayang Allah yang seluas bumi dan langit,” jelas Gubernur ahli tafsir itu.

Menghakiri tausyiahnya, TGB memberi dorongan semangat kepada para santri agar terus istiqomah dalam belajar dan menuntut ilmu. Motivasi yang diberikan tidak terlepas dari janji Allah dalam salah satu surat dalam Al-qur’an yang artinya bahwa satu kesusahan akan dibalas dengan dua kemudahan. Jadi pesan mendalam yang disampaikan adalah bahwa setiap santri tidak mudah putus asa dalam menimba ilmu.

 

Biro Humas dan Protokol NTB