Error message

Notice: Undefined offset: 1 in counter_get_browser() (line 70 of /home/diskominfotikntb/public_html/sites/all/modules/counter/counter.lib.inc).

Infrastruktur BSKW Mirah Adi Butuh Perhatian

Berdiri pada tanggal 1 April 1982, Gedung Balai Sosial Karya Wanita (BSKW) “Mirah Adi” provinsi NTB kini berada dalam kondisi memprihatinkan. Kepala Balai, Drs. Amirudin Idris, MH kepada Tim Media menyampaikan harapannya agar BSKW Mirah Adi bisa lebih diperhatikan oleh kepala daerah.

"Gedung Mirah Adi belum pernah direnovasi secara berarti sejak awal didirikan. Jadi jangan heran kalau dinding dan atapnya bannyak yang rusak," jelas Kepala Balai yang baru menjabat selama satu tahun tersebut. Rabu (23/5/18).

Dalam lawatannya, Tim Media Diskominfotik NTB berkesempatan melihat kondisi bangunan yang dulunya bernama Sasana Rehabilitasi Wanita (SRW) “Budi Rini” tersebut.  Banyak atap yang gentengnya rusak dan dinding bolong yang ditambal seadanya. Bahkan sebuah kelas langit-langitnya hampir romboh. Dan ada banyak coretan pada dinding kamar asrama dari para penghuninya.

"Tidak hanya bangunannya banyak yang rusak. Budi Rini juga bangak kekurangan fasilitas penunjang. Kami punya tiga kelas, kelas Tataboga, kelas Menjahit, dan kelas Kecantikan. Tetapi kami tidak memiliki show room atau galleri untuk menunjukan hasil karya anak-anak Mirah Adi," tambah Amirudin Idris.

Lebih jauh, Kepala Balai juga mengaku Mirah Adi kekurangan tenaga profesional seperti psikiater/psikolog dan guru rohani. Hal tersebut harusnya dimiliki oleh Dinas yang mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan pelayanan dan rehabilitasi sosial bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial ; Wanita Tuna Susila (WTS), Wanita Rawan Tindak Asusila (WRTA), Wanita Korban Tindak Kekerasan (WKTK), Wanita Korban Traffiking dan Orang dengan HIV/AIDS.

"Seharusnya ada psikiter atau psikolog di sini, sehingga para korban bisa konsultasi untuk penyembuhan lebih cepat," lanjutnya.

Kondisi bangunan BSKW Mirah Adi yang memprihatinkan dan kurangnya fasilitas berdampak pada kepada kondisi kejiwaan penghuninya.

"Penghuni Mirah Adi kan banyak yang merupakan korban kekerasan atau trafficking yang stress atau depresi, jadi lingkungan sangat mempengaruhi kesehatan kejiwaan mereka. Kalau tempat tinggalnya suram kan susah sembuhnya. Para WTS juga butuh tempat yang baik supaya rehabilitasi berjalan sesuai harapan," jelas Mawardin, Pegawai Bagian Perlindungan dan Penyantunan di DSBA kepada Tim Media Diskominfotik.

Mawardin juga mengaku, BSKW Mirah Adi beberapa kali pernah mengajukan dana renovasi bangunan, tetapi tidak pernah mendapat dana yang cukup.

"Waktu itu kalo tidak salah, kami mengajukan dana kurang lebih 1 M tetapi yang cair hanya 400 jutaan. Dengan segitu kami hanya bisa memperbaiki beberapa atap bangunan saja," jelas Mawardin.

Meski dengan banyak kekurangan, BSKW Mirah Adi selalu berusaha memberikan pelayanan terbaik mereka kepada lebih dari 40 penghuninya. Balai yang dulunya sempat mendapat image negatif di kalangan masyarakat itu kini telah lebih banyak berbenah. Pintu gerbang kini terbuka lebar untuk umum dan para penghuninya dibekali dengan skill yang lebih untuk dapat berbaur dengan masyarakat.

"Meskipun hanya ada tiga kelas, tapi kami selalu berusaha membuat anak-anak dapat belajar dengan maksimal sehingga skill yang mereka miliki bisa berguna ketika keluar dari sini. Banyak anak-anak yg sudah keluar dari sini juga menceritakan kepada teman-teman sesamanya bagusnya di sini sehingga beberapa penghuni juga justeru mengantarkan diri sendiri," jelas Kepala Balai.

Dengan kedatangan Tim Media, BSKW Mirah Adi berharap dapat diperhatikan oleh pemerintah. Sehingga bisa dapat direnovasi menjadi lebih layak.

"Dari semua panti sosial milik pemerintah yang ada di sini, hanya Mirah Adi yang masih seperti ini. Semoga bisa segera diperbaiki," harap Mawardin diakhir wawancara. (Tim Media)