Ini Cara Mengatasi Sampah di Pulau Kecil

Pulau kecil (red: Gili) merupakan wilayah yang terpisah secara geografis oleh lautan dengan pulau besar yang ada (Lombok dan Sumbawa). Dengan kondisi wilayah yang seperti ini, tentu akan memiliki berbagai macam tantangan dalam hal pembangunan (SDM maupun infrastruktur) yang akan dilakukan oleh pemerintah. Aksesibilitas tentu harus menjadi priotitas pemerintah sebagai bentuk perhatian kepada masyarakat yang tinggal di pulau kecil. Jika hal ini diabaikan dapat berdampak kepada pembangunan yang tidak merata antara wilayah daratan di pulau besar dengan pulau kecil tersebut. 

Pemerintah harus terus memperhatikan kondisi masyarakat yang berada di pulau kecil. Jangan sampai terjadi “Perbedaan Perhatian” antara wilayah daratan dengan pulau kecil. Terutama dalam hal penanganan sampah. Sampah merupakan sisa barang yang sudah tidak digunakan lagi oleh setiap manusia dalam kehidupannya sehari-hari. Setiap orang tentu menghasilkan sampah yang berbeda-beda. Mulai dari sampah plastik, sampah organik, B3, dan yang lainnya. Pemerintah Provinsi NTB dalam hal ini telah mencanangkan salah satu program unggulan untuk mengatasi permasalahan sampah tersebut, yaitu program NTB Zero Waste. 

NTB Zero Waste ini membawa angin segar bagi keberlangsungan lingkungan masa depan wilayah NTB. Pemerintah mulai mencoba membangun kembali kesadaran masyarakat akan pentingnya mengolah sampah yang sudah ada dan mengurangi penggunaan barang yang dapat menghasilkan timbulan sampah. Berbagai macam cara telah dilakukan untuk mewujudkan NTB Zero Waste ini, salah satunya adalah dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya Zero Waste itu sendiri. Namun sosialisasi ini kebanyakan terfokus kepada masyarakat yang berada di daratan, jarang sekali dilakukan sosialisasi kepada masyarakat yang berada di pulau-pulau kecil. Sehingga kesadaran masyarakat pulau untuk membuang sampah sembarangan masih minim sekali. Pemerintah harusnya hadir di tengah-tengah mereka untuk memberikan perhatian yang lebih dalam hal penanganan sampah di pulau kecil. 

Pulau kecil harus diperhatikan secara lebih dalam hal penanganan masalah sampah karena kondisi geografisnya yang berada jauh dari daratan. Pemerintah harus berpikir bagaimana cara agar sampah yang dihasilkan di pulau kecil tersebut harus diselesaikan di pulau tersebut, tidak dibawa ke daratan. Karena ini akan membutuhkan biaya yang sangat besar dalam transportasi untuk mengangkut sampah ke daratan. Penulis ingin memberikan salah satu konsep penyelesaian masalah sampah di pulau kecil. Dalam hal ini, penulis mengambil contoh dari Pulau Untung Jawa yang berada di Kabupaten Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta. Penulis melihat secara langsung proses pengelolaan sampah dari awal – akhir di pulau tersebut. Programnya bernama SOSIS (Save Our Small Islands).

SOSIS (Save Our Small Islands)

SOSIS ini tujuannya untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat setempat yang tinggal di pulau kecil untuk menjaga kelestarian lingkungan dan terhindar dari sampah. Diinisiasi oleh Lembaga Divers Clean Action (DCA) yang terjun langsung mendampingi dan memberikan edukasi kepada masyarakat. Beberapa tahapan yang dilakunan oleh DCA adalah sebagai berikut: Pertama, DCA melakukan edukasi kepada masyarakat setempat untuk melakukan pemilahan sampah secara langsung dari rumahnya. Pemilahan sampahnya terdiri dari sampah organik, sampah plastik (kemasan, mika, dan atau yang tidak bias dijual ke bank sampah), sampah plastik (botol, gelas plastik, dan atau yang bias dijual ke bank sampah), dan sampah residu (yang tidak bisa diolah kembali).  

Kedua, sampah yang sudah dipilih akan diolah sesuai dengan jenisnya. Sampah organik akan diolah menjadi pupuk kompos, sampah plastik (yang bias dijual ke bank sampah) akan diberikan ke bank sampah untuk diolah kembali. Sampah plastik (kemasan) akan diolah melalui proses pirolisis untuk menghasilkan bahan bakar. Bahan bakar yang dihasilkan ini digunakan oleh masyarakat setempat untuk melaut. Sampah residu akan dibuang ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Dalam mengangkut sampah, petugasnya memisahkan sampah yang sudah dipilih tadi. Tidak dicampurkan kembali sehingga beberapa jenis sampah kembali bercampur. Jadi sampah yang dibuang ke TPA hanya sapah sisa/ residu yang benar-benar tidak bisa diolah. Hal ini sesuai dengan aturan UU No. 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah. 

Konsep SOSIS ini bisa dibilang cukup berhasil dalam hal pengelolaan sampah yang ada di Pulau Untung Jawa. Sehingga konsep ini layak untuk ditiru oleh pulau-pulau kecil yang lain, termasuk oleh NTB. Sehingga untuk menyelesaikan permasalahan sampah yang dihasilkan oleh pulau tersebut, cukup diselesaikan di pulau itu sendiri. Tidak dibawa lagi ke daratan untuk diolah atau dibuang ke TPA yang ada di daratan

 

Jenis: