Inovasi Varian Untuk Samawa

Jango Desa. Sebuah program inovasi untuk memetakan potensi desa. Pencetusnya, Varian Bintoro. Sosok pemimpin muda yang bekerja dengan visi.  Bukan melulu soal ide tapi bagaimana mewujudkannya dengan segenap kemampuan. Tahun 2005 silam, Kampung Media adalah ide besar. Varian Bintoro yakin, konsep komunitas adalah pilihan terbaik untuk menggerakkan Jango Desa.

Varian Bintoro adalah sosok birokrat muda yang berprestasi. Bukanlah orang baru di pemerintah kabupaten Sumbawa Besar.

“Kalau jadi camatnya saya lima tempat bang... 2004-2006 Camat Rhee, 2006 -2007  Camat Ropang, 2007-2008 Camat Lenangguar, 2008-2011 Camat Moyo Hilir dan 2016-2018 Camat Sumbawa.  Kalau Kepala Bagian, saya 2012-2013 Kabag Umum Setwan, 2013-2015 Kabag Humas, Setwan 2015-2016 dan Kabag Aset Setda”, jelas Varian kemarin (29/4).

Ditemani sepoi angin dan kesibukan dapur, Varian menceritakan konsep Jango Desa. Sejak 2019 ia kini menjabat sebagai Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) kabupaten Sumbawa Besar. Perjalanan hari ini mengunjungi beberapa desa membuatnya ingin segera mewujudkan kosepnya. Baginya, desa desa di Sumbawa harus didorong untuk memiliki konsep sendiri untuk pengembangan desa. Badan usaha milik desa dan kucuran anggaran dana desa yang cukup seharusnya memiliki pola yang “berbeda” dengan program pemerintah karena direncanakan dan dilakukan oleh warga masyarakat sendiri.

“Bukan saja mencoba sesuatu yang baru karena keleluasaan anggaran tapi mengerjakannya dengan konsep komunitas memudahkan pelibatan kelompok warga yang memang memiliki ketertarikan yang sama dan pemikiran yang sama pada sebuah kegiatan di desa”, terang Varian. Secara sederhana ia menggambarkan konsep Jango Desa dengan berkeliling desa menemukan potensi dan menemui kelompok warga untuk potensi yang sama.

Sekitar pukul satu siang, tim media Dinas Kominfotik NTB mengambil waktu istirahat setelah kunjungan ke Desa Songkar. Jalan tanah berdebu dan rimbun berbagai jenis pohon di sepanjang jalan seolah sedang menuju sebuah tempat di pelosok Sumbawa. Tempat ini bukanlah destinasi wisata atau semacam kawasan kuliner. Inilah desa di Sumbawa. Tak berapa lama setelah jalan menurun, kendaraan berbelok tajam, naik menuju sebuah pekarangan luas. Sekilas terlihat sebuah plank nama bertuliskan Warung Makan Ibu Mini. Tak jauh dari jalan utama menuju kota kabupaten, warung makan ini memang hanya berjarak puluhan kilometer namun lokasinya yang tersembunyi oleh pepohonan dan semak  diatas dataran tinggi membuat warung makan ini menjadi unik dan khas desa.

Konsep warung makan ini memang setengah jadi. Atau mungkin saja si pemilik warung menyediakan pilihan bagi pengunjung untuk menikmati kuliner yang disajikan. Di tengah tengah pekarangan berkontur perbukitan itu memang ada bangunan untuk ruang makan seperti rumah makan pada umumnya. Namun dibelakang bangunan ini ada pula beberapa pondok kecil yang dibuat dibawah pohon rindang. Agak kebawah ada kandang sapi. Tepat di tengah halaman belakang, dua buah meja kayu besar untuk tempat makan disediakan dibawah pohon asam besar tua yang sangat rindang. Pemandangannya, hamparan luas lembah. Dan konsep “open kitchen” membuat aroma bumbu dan rempah terbawa angina hingga ke meja makan. Kesibukan dapur tradisional dengan tungku dan kayu bakar adalah peristiwa kuliner yang mahal.

“Pak Kapolda NTB pernah berkunjung kesini. Beliau terharu karena teringat masa kecilnya”, ujar Ibu Mini sang pemilik warung.

Ini baru satu contoh betapa potensi desa adalah membuka ruang konsep dan kreatifitas. Tak harus latah mengadopsi kesuksesan desa lain. Terkadang kesahajaan dan originalitas adalah potensi membangun. (jm – tim media)