Komisi IX DPR RI Pastikan Penanganan Stunting

Rombongan Komisi IX (Sembilan) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI berkunjung ke Dinas Kesehatan Provinsi NTB dalam rangka memastikan pelayanan kesehatan di NTB mengalami peningkatan. Terutama masalah Stunting, mendorong hadirnya peraturan daerah tentang Stunting dan pernikahan dini yang masih tinggi di Provinsi NTB. 

Provinsi NTB berada pada rangking ke-29 nasional tentang Indeks Pembangunan Manusia (IPM) khusus menangani masalah Stuting. Kekurangan  gizi berimbas pada pertumbuhan anak yang tidak normal (pendek) merupakan program nasional yang harus dijalankan oleh seluruh daerah di Indonesia.

"Angka Stuting di NTB cukup tinggi, walaupun penurunan beberapa tahun  akhir ini cukup bagus. Dalam kunjungan ini, kita ingin melihat peran serta dari semua stakeholder yang ada, mulai dari tenaga medis, pemerintah daerah dan masyarakat NTB,” tutur Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Dra. Hj. Ermalena, MHS di ruang rapat Dikes NTB, Mataram (19/3)

Oleh karena itu, ia berharap kepada pemerintah daerah agar membuat perda yang mengharuskan adanya tindakan-tindakan yang ekstrim untuk bisa menyelesaikan masalah Stunting di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sehingga IPM daerah pada masalah Stuting dapat dinaikkan ke peringkat 28 nasional yang sebelumnya berada pada peringkat ke-29 nasional.

Untuk mempercepat penanganan masalah Stunting, wakil ketua rombongan DPR RI tersebut. juga berharap ada inovasi lain untuk menurunkan angka Stunting di NTB. Seperti memberikan tablet Zat Besi kepada seluruh anak-anak usia produktif (SMP dan SMA) untuk mengatasi Anemia (keadaan saat jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin “protein pembawa oksigen” dalam sel darah merah berada di bawah normal) kalau ini dapat teratasi makan pertumbuhan akan lebih sempurna.

Kemudian intervensi terhadap pola asuh harus ditingkatkan, karena pernikahan dini di NTB masih sangat tinggi. Sebab dampak yang dirasakan akan berimbas pada putus sekolah, emosional yang tidak stabil serta ekonomi yang belum memadai. Ini tentunya menyebabkan dampak yang sangat luar biasa kepada generasi selanjutnya. 

“Dari pernikahan dini yang terjadi, mereka belum mengerti bagaimana mengasuh anak dengan baik, belum memiliki pengalaman untuk memilih makanan yang cocok untuk anak-anaknya. Ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan anak terlahir dalam keadaan Stunting. Jadi kita berharap kepada seluruh masyarakat NTB untuk memberikan perhatian yang cukup besar terhadap perkembangan generasi bangsa. Kita harus bersinergi untuk meningkatkan kesehatan dalam kehidupan masyarakat,” tegasnya.

Di akhir paparanya, Ia mengakui beberapa kebijakan pemerintah provinsi NTB yang diintegrasikan dengan program-program dari bantuan yang terstruktur kepada daerah tertentu yang memberikan dampak yang cukup signifikan dalam menangani masalah Stunting. (Man-Tim Media)