Langkah Awal Menuju NTB Ramah Investasi

Bergairahnya investasi disertai keberhasilan meningkatkan produk-produk ekspor  yang bernilai ekonomi kompetitif, merupakan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Jika kita hanya mengirim produk-produk mentah, maka nilai ekonominya sangat rendah. Dan itu tidak akan banyak berpengaruh terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Karenanya kedepan produk  NTB yang dipasarkan, haruslah produk olahan, bukan bahan baku. 

Gubernur NTB, Dr.H.Zulkieflimansyah menegaskan, NTB yang berada dalam suasana aman dan kondusif bagi seluruh aktivitas kegiatan masyarakat dan bisnis, merupakan iklim yang harus terus diikhtiarkan. "Ramah pada investasi dan dapat menjadi tempat yang hangat dan menyenangkan untuk dikunjungi bersama," kata Doktor Zul sapaan akrab Gubernur saat menanggapi penetapan 5 (lima) buah Peraturan Daerah Provinsi NTB Prakarsa eksekutif, di Ruang Sidang Utama DPRD NTB, (Selasa, 11/6-2019).

Regulasi yang efektif dan ramah pada investasi diperlukan sebagai langkah awal dari usaha membangun NTB gemilang di masa yang akan datang, tegasnya. Gubernur berharap, dalam tataran implementasinya, penetapan perda ini dapat menjadi instrumen penting mewujudkan NTB yang ramah investasi.

Kelima Perda yang ditetapkan tersebut adalah: (1) Perda tentang pengelolaan pertambangan mineral dan batubara; (2). Perda tentang lain-lain pendapatan asli daerah yang sah; (3) Perda tentang penggabungan dan perubahan bentuk badan hukum perusahaan daerah Bank Perkreditan Rakyat Nusa Tenggara Barat menjadi perseroan terbatas Bank Perkreditan Rakyat NTB; (4) Perda tentang pembubaran perusahaan daerah PT. Daerah Maju Bersaing; dan (5) Perda tentang percepatan pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur jalan provinsi dengan pola pembiayaan tahun jamak. 

Menurut Doktor Zul, pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain investasi, ekspor, impor dan pengelolaan sektor-sektor lainnya. Meski produksi nasional sangat tinggi  dan proyek proyek infrastruktur juga dilakukan secara besar-besaran, kata Gubernur,  hal tersebut tidak akan berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Jika permasalahan dasarnya tidak dituntaskan. Yakni mengurangi ketergantungan terhadap produk-produk import dan terus memperbesar  dan memperluas pemasaran produk-produk olahan daerah. Industrialisasi merupakan kunci jawaban dari semua itu, paparnya.

Berdasarkan rilis BPS, bahwa nilai ekspor NTB bulan April 2019 sebesar 2.676.537 US Dolar menurun 83.50 persen dibanding eksport bulan Maret sebesar US $ 16.219.947.

Selama bulan April, tidak ada komoditi tambang/Galian non Migas yang diekspor atau dikirim keluar NTB.  Produk - produk ekspor NTB didominasi oleh komoditi ikan dan udang (52,67) persen, disusul daging dan ikan olahan 20,99 persen,  perhiasan permata 13,32 persen. Kemudian Garam, belerang dan kapur; perhiasan/permata serta kopi, rempah-rempah, sayuran dan juga kain perca.

Sementara nilai impor NTB bulan april mencapai US$; 16.290.436. jauh lebih besar dibandingkan nilai ekspor pada bulan yang sama. Komoditi terbesar yang diimport adalah mesin-mesin/bahan mekanik, barang dari karet, gula dan kembang gula, kendaraan, mesin dan peralatan listrik serta benda-benda besi/baja dan lain-lain.

Perkembangan ekonomi spasial NTB juga mengalami  pelemahan dengan pertumbuhan sebesar 2,12 persen setelah  diguncang bencana gempa bumi pada akhir tahun 2018 yang lalu. Demikian juga jumlah penduduk miskin NTB masih mencapai sebesar 14,63 persen dari total penduduk.

Karenanya, kini dan kedepan Pemprov. NTB terus meningkatkan  pengolahan berbagai produk  unggulan daerah yang bertumpu pada sektor pertanian, pariwisata dan industri.

Fokus pengembangannya pada industri olahan dan permesinan. Khususnya  teknologi/permesinan yang mendukung pengolahan dan pemberian nilai tambah  terhadap berbagai produk dari sektor Pertanian, pariwisata dan usaha industri lainnya.