Lestarikan Sarung Sebagai Warisan Budaya

Sarung merupakan warisan budaya yang penggunaannya sudah mulai banyak ditinggalkan. Anggapan yang muncul di tengah masyarakat adalah penggunaan sarung terkesan kolot, kuno dan hanya digunakan dirumah atau jika ingin pergi ke masjid saja. 

Di event Inspiratif Expo kali ini, pengurus Dekranasda hadir dengan busana paduan sarung untuk memasyarakatkan penggunaan sarung kembali.

Sebelum adanya celana dan baju seperti sekarang ini, kita dulunya pakai sarung."Ujar ketua umum Dekranasda NTB Hj. Niken Saptarini Widiawati dalam IE kali ini, Ahad (17/03).

Istri dari Gubernur NTB ini juga menjelaskan, sarung yang merupakan hasil budaya sendiri harus mendapatkan perhatian lebih. Sehingga kesan yang muncul ditengah masyarakat tidak lagi menganggap sarung sebagai aksesoris khusus seperti ke masjid saja. Tapi bisa digunakan untuk keseharian juga. 

"Kita ingin menggairahkan dan memasyarakatkan kembali penggunaan sarung yang merupakan budaya khas Indonesia," terangnya lagi.

Untuk itu, Niken yang juga bertindak sebagai ketua PKK NTB ini mengajak masyarakat NTB untuk gemar memakai sarung. "Ini bagian dari kita mencintai produk lokal kita sendiri,"tegasnya. 

Rencananya dalam waktu dekat akan dilakukan pencanangan penggunaan sarung di NTB sebagai upaya melestarikan warisan budaya khas Indonesia."Disini segera kita canangkan juga. Semoga setiap tahun terus berlanjut penggunaan dan pelestarian sarung menjadi hari sarung nasional,"ungkapnya. 

 

Sebelumnya Presiden RI Joko Widodo telah mencanangkan penggunaan sarung sebagai warisan budaya yang harus terus dilestarikan. Pencanangan ini dilakukan dalam Festival Sarung Indonesia 2019 yang telah dilaksanakan di Jakarta pada tanggal 3 Maret 2019. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Sarung Nasional. (Luk-tim media).