MA Mu’allimat Mengubah Sampah Menjadi Berkah

Jam siang adalah jam yang paling membosankan bagi pelajar, selain bosan dengan suasana kelas juga rasa kantuk yang selalu menyerang , belum lagi masalah sampah yang ada di depan kelas seperti pemandangan yang menyiksa. Meskipun sudah dibuang di tempat sampah namun  bau dari bekas nasi yang bercampur air dan segala macam sudah membuat konsentrasi buyar dan rasanya ingin beranjak dari kursi kelas.

Seharusnya sekolah adalah tempat yang  menyenangkan dan bersih untuk menuntut ilmu, sangat di sayangkan kemudian jika citra sekolah tersebut buruk hanya karna sampah.

Sepertinya sampah menjadi momok yang menakutkan, keberadaanya seolah tak pernah berkurang malah semakin banyak ,bahkan pemerintahpun kewalahan dalam mengatasi persoalan sampah ini.  dilansir dari okezone com  Indonesia terpilih sebagai penghasil sampah plastik terbanyak kedua  dunia, sungguh miris memiliki prestasi sebagai penyumbang sampah terbanyak dunia bukan?

Namun, apakah hanya sampah yang patut di persalahkan dalam permasalahan besar ini? Tentu tidak, kita sendiri sebagai manusia, pelajar yang masih kurang peka dengan keberadaan dan segala dampak buruknya. Kita senang menggunakan plastik untuk membukus makanan dan sebagainya tapi kita lupa untuk nanti setelah penggunaannya mau diapakan.

Apabila sejak awal kita hanya berpikir barang yang sudah digunakan harus dibuang, saat itu juga tercipta kebudayaan yang dikelilingi sampah. Mari kita cermati dari awal, adakah satu ciptaan tuhan yang tidak memiliki manfaat? Semua makhluk memiliki manfaat dari makhluk yang terkecil hingga yang besar, semuanya tidak ada yang sia-sia.

Dari sanalah kemudian OSIM MA Mu’allimat beserta guru dan siswa lainnya memulai langkah awal untuk mengolah ulang dan memanfaatkan sampah yang sebelumnya dinilai tidak memiliki nilai menjadi barang yang bernilai berkah. Sampah organik dipilah kemudian dijadikan pupuk. Sedangkan yang non organik dikumpulkan dan di jual kepengepul sebagian juga di daur agar menjadi barang yang bernilai estetika dan bisa digunakan. Sepert igambar diatas botol plastik dijadikan pot tanaman, hiasan depan kelas dan sebagainnya. Tidak hanya di sekolah, namun siswi juga diwajibkan membawa sampah dari rumah untuk kemudian di olah bersama nantinya.

Kini sekolah tidak menjadi tempat yang membosankan dan bau, namun sudah menjadi tempat yang menyenangkan dan indah di pandang mata. Persepsi siswipun tentang sampah sudah tidak lagi bau,kotor dan menjijikkan . Program memilah sampah organic dan non organic untuk dimanfaatkan yang dilakukan sekali seminggu ini memberi dampak positif bagi sekolah itu sendiri, siswi dan para guru. Tentu program ini juga selaras dengan program pemerintah provinsi NTB yaitu NTB Zero Waste , agar semua sadar dan mau menanamkan jiwa perduli terhadap lingkungan.  Kita bisa melakukan hal kecil namun berdampak besar bagi lingkungan. Jangan takut untuk mencoba dan memulai, kita bisa memulai dari diri kita sendiri seperti membawa tas belanjaan sendiri ketika pergi kepasar dan hal-hal sederhana lainnya.

Mari kita dukung program pemerintah NTB Zero waste, Karna kalau tidak dari diri sendiri lalu siapa? Kalau bukan sekarang kapan lagi? Mau menunggu rumah kita tenggelam oleh gundukan sampah? Tentu tidak. Semoga semakin banyak sekolah-sekolah dan tempat lainnya yang menjalankan program NTB Zero Waste supaya NTB tidak hanya indah dengan wisatanya namun juga bersih lingkungannya.

Jenis: