Mengawal Stunting Untuk Menyiapkan Generasi Emas di Masa Mendatang

Pembangunan sumber daya manusia (SDM) merupakan kunci utama dalam pembangunan bangsa. Seperti yang ditegaskan oleh Bapak Presiden Joko Widodo bahwa pembangunan sumber daya manusia akan menjadi salah satu prioritas utama selama periode kedua kepemimpinannya. Hal ini semakin mendukung konsep generasi emas yang sudah dicanangkan oleh pada masa pemerintahan sebelumnya. Berbicara tentang SDM, yang akan menjadi tantangan kedepannya yakni bagaimana kita mewujudkan konsep generasi emas bukan hanya sebagai grand design semata. Saat ini, Indonesia sudah memasuki fase bonus demografi dan akan mencapai puncaknya pada tahun 2030-2045. Bonus demografi adalah fase dimana jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) lebih tinggi dibandingkan penduduk usia anak-anak (14 tahun kebawah) dan lansia (65 tahun keatas). 

Istilah generasi emas ataupun bonus demografi pada hakikatnya merupakan sebuah keuntungan bagi bangsa kita kelak. Intinya, dengan melimpahnya SDM khususnya penduduk usia produktif, diharapkan Indonesia akan semakin mudah mencapai puncak kejayaannya dan semakin mampu bersaing dalam kancah global. 

Namun dibalik argumen tersebut ada faktor-faktor risiko yang dapat menghambat pencapaian bonus demografi, salah satu kendala besar yaitu masih rendahnya kualitas SDM sebagai dampak dari terhambatnya tumbuh kembang anak secara optimal. Seperti yang kita ketahui saat ini SDM NTB dikenal sebagai SDM dengan kondisi masih dibawah rata-rata nasional. Ditinjau dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM), NTB berada pada peringkat ke-29 dari 34 provinsi di Indonesia dengan IPM sebesar 67,3 persen. Salah satu indikator pembentuk IPM dalam bidang kesehatan adalah angka harapan hidup penduduk saat lahir. Angka Harapan Hidup penduduk NTB menempati peringkat ke-30 dari 34 provinsi yaitu sebesar 65,87 (BPS, 2018).

Disisi lain, angka prevalensi stunting balita di NTB masih terbilang cukup tinggi. Stunting atau kerdil adalah kondisi dimana balita memiliki panjang atau tinggi badan yang kurang ideal jika dibandingkan dengan umurnya. Stunting merupakan hal yang serius karena biasanya balita stunting di masa yang akan datang akan mengalami kesulitan dalam mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal (pusdatin kemenkes, 2018). Dengan demikian, rendahnya Angka Harapan Hidup dan tingginya prevalensi stunting di NTB menjadi tantangan besar bagi pemerintah dalam mengoptimalkan capaian pembangunan di sektor kesehatan. 

Berdasarkan data Dinas Kesehatan NTB, angka prevalensi stunting pada bayi dan balita di NTB dalam beberapa tahun terakhir memang menunjukkan perbaikan. Pada tahun 2018 angka prevalensi stunting mencapai 33,49 persen, menurun dibanding tahun 2017 yang sebesar 37,2 persen. Meskipun menunjukkan tren yang menurun tetapi angka tersebut masih berada diatas rata-rata nasional. Kasus stunting di NTB paling banyak ditemukan di Kabupaten Lombok Timur yang mencapai 43,52 persen, sedangkan wilayah dengan kasus stunting paling sedikit terdapat di Kabupaten Sumbawa Barat dengan 18,32 persen.  Di tahun 2018 pemerintah mencanangkan 1.000 desa sebagai lokus program prioritas stunting. Untuk wilayah NTB, program tersebut diselenggarakan di enam kabupaten yakni Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa, Dompu dan Lombok Utara.

Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya stunting yaitu kondisi ibu, kondisi bayi dan balita, serta kondisi sosial ekonomi dan lingkungan. Kondisi kesehatan dan gizi ibu selama masa kehamilan sangat berpengaruh terhadap kesehatan janin. Seperti yang kita ketahui bahwa setiap jenis zat yang dimakan oleh seorang ibu selama masa kehamilannya akan terserap oleh janin yang dikandungnya. Bayi yang lahir dengan status gizi rendah atau berat badan lahir dibawah 2,5 kg memiliki risiko mengalami stunting 3,8 kali lebih besar dibanding bayi yang lahir dengan berat badan diatas 2,5 kg (Apriluana, 2018). Karakteristik ibu saat hamil juga memiliki pengaruh terhadap kesehatan janin dan bayi. Ibu hamil yang terlalu muda atau terlalu tua lebih berisiko melahirkan dengan bayi berat lahir rendah (BBLR). Berdasarkan data Susenas BPS 2018, sekitar 63,12 persen perempuan berumur 15-49 tahun di NTB yang pernah kawin, hamil pada usia dibawah 20 tahun. Sementara ibu hamil dengan risiko kurang energi kronis (KEK) di NTB sebesar 17,4 persen dimana KEK memiliki pengaruh buruk terhadap kecukupan gizi janin yang dikandungnya (Kemenkes, 2018).

Jika dilihat dari kondisi bayi atau balita, menurut hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) pada tahun 2017 menunjukkan 17,8 persen balita di Indonesia mengalami gizi kurang dan 9,5 persen balita kurus. Beberapa fakta menyimpulkan bahwa pemberian ASI Eksklusif selama 6 bulan pertama memberikan dampak yang baik bagi tumbuh kembang bayi. Di NTB, cakupan bayi yang mendapat ASI Eksklusif tahun 2017 cukup tinggi yaitu 87,35 persen. Hal ini menandakan edukasi tentang pentingnya pemberian ASI Eksklusif kepada masyarakat di NTB sudah cukup baik.

Kondisi Sosial Ekonomi juga dapat mempengaruhi terjadinya stunting. Beberapa karakteristik rumah tangga seperti pendapatan rumah tangga, sanitasi maupun akses terhadap air bersih sering diduga memiliki pengaruh terhadap kejadian stunting. Berbagai penelitian menunjukkan hubungan yang signifikan antara pendapatan rumah tangga dengan kejadian stunting pada balita baik di perkotaan maupun perdesaan (Aridiyah et al, 2015). Status ekonomi yang rendah berdampak pada kebutuhan gizi yang kurang pada balita. Sanitasi yang buruk dapat menyebabkan penyakit infeksi sehingga dapat berimbas pada saluran pencernaan dan mengganggu penyerapan nutrisi. Di NTT, kejadian stunting merupakan tertinggi se-Indonesia selama tahun 2017 yaitu 40,3 persen dan persentase rumah tangga yang memiliki akses terhadap sanitasi layak yang cukup rendah yakni 45,31 persen (BPS, 2018). Cukup dapat dibandingkan untuk dijadikan alasan mengapa sanitasi yang baik penting untuk mencegah stunting. Hal ini searah pula dengan dampak rumah tangga yang tidak memiliki akses terhadap sumber air bersih yang layak. 

Sesuai kondisi yang telah dipaparkan diatas, dapat disimpulkan bahwa masalah kecukupan gizi dan lingkungan adalah masalah yang kompleks. Hal tersebut menjadi sangat penting apalagi berkaitan dengan tujuan kita untuk menyiapkan generasi emas sebagai penerus bangsa. Fakta ini harusnya semakin membuat kita sadar bahwa kita dihadapkan kepada sebuah polemik dimana untuk mencapai tahapan generasi emas yang gemilang merupakan sebuah tantangan yang tidak mudah apalagi jika kita tidak menyiapkannya sejak dini. Disamping itu, masalah stunting juga bukan merupakan masalah sepele. Dilihat dari latar belakangnya, masalah stunting tidak lepas dari lingkaran kemiskinan. Untuk saat ini kemiskinan NTB masih berada diatas rata-rata nasional atau 14,56 persen. 

Disamping pemerintah menjalankan program 1.000 Desa Prioritas Stunting hingga saat ini, masyarakat juga dapat berperan aktif dalam upaya percepatan penurunan stunting. Upaya yang dapat dilakukan salah satunya dengan memperbanyak kegiatan yang berupa konseling serta penyuluhan baik terhadap ibu hamil, remaja maupun anak sekolah. Pada kegiatan tersebut dapat dilakukan penyebarluasan informasi mengenai pentingnya gizi maupun ASI eksklusif untuk tumbuh kembang anak, karena semua permasalahan mengenai gizi berawal dari pengetahuan ibu atau orang tua. Dengan demikian, menyiapkan generasi emas tidak hanya membuat kita berpikir tentang bagaimana caranya menyediakan lapangan kerja yang mencukupi atau menyesuaikan kebutuhan pangan, fasilitas pendidikan, perekonomian dan sebagainya. Namun yang terpenting adalah membangun kualitas manusia sejak dini karena pembentukan manusia sejak dini seperti memupuk karakter SDM bangsa kita agar kelak dapat bersaing dalam persaingan global.

 

Jenis: