Mengenal "Cecenge" kuliner tradisional asal Kalijaga

Pulau Lombok selain terkenal dengan pesona wisatanya yang eksotis, pulau yang terkenal dengan julukan pulau seribu masjid ini juga menawarkan wisata kuliner yang dapat ditemukan dihampir desa. Setiap desa/kampung punya kekayaan kuliner tersendiri untuk dinikmati oleh tamu yang berkunjung ataupun untuk konsumsi warga sebagai lauk setiap hari . Bagi warga Desa Kalijaga, Kecamatan Lenek Kabupaten Lombok Timur,  “Cecenge” harus selalu ada sebagai menu andalan setiap bersantap, dan juga saat momen perayaan penting seperti syukuran adat.

Cecenge sendiri adalah makanan yang disajikan sebagai sayur yang terbuat dari santan kelapa berisi irisan cabe rawit muda, urat daging, teri laut, serta sayuran seperti terong ataupun walu. Penyajian Cecenge tidak sembarang, biasanya ada aturan masakan dimana perasan santan harus dimasak sampai mendidih kemudian irisan daging dimasukkan dan dipanaskan kurang lebih 30 menit agar daging yang dihasulkan empuk, setelah itu irisan cabe hijau muda dan sayur menyusul kemudian didiamkan sekitar 10 menit. Semua dimaksud agar sari hidangan turun meresap ke masakan daging.  

Menyantap Cecenge lazimnya bersama kerupuk agar lebih nikmat, serta ditemani dengan minuman segar karena komponen utama cabe ijo dipastikan akan membuat lidah penikmat kuliner ini bergoyang. Untuk itu makanan ini sering juga disebut dengan istilah Banteng Ngangak yang dalam bahasa Indonesia dapat diartikan yakni Sapi Mangap dikarenakan rasa pedas yang ditimbulkan.

Uniknya Cecenge adalah masakan yang eksis menembus zaman. Pasalnya masakan ini tidak hanya dibuat dan dinikmati  pada masa orang tua dulu, namun sampai saat ini selalu eksis sebagai menu utama bahkan dibeberapa warung pinggiran  menjadi buruan dikalangan warga kalijaga dan sekitarnya terlebih dibulan puasa.  

Salah satu, pembuat sekaligus penjual Cecenge, Inaq Camin, mengatakan sampai sekarang meski sudah banyak ragam kuliner yang secara instan mudah diperoleh, namun cecenge tidak akan pudar oleh zaman.

" Masakan ini sudah menjadi warisan,dan secara turun temurun telah diwariskan ke anak anak muda, jadi tidak perlu khawatir," ujar perempuan yang menekuni dunia kuliner sejak remaja itu.

Ia juga mengungkapkan, kuliner ini harus tetap dipelihara agar tetap menjadi kekayaan didesanya. Oleh karena itu sudah menjadi tradisi, apabila perempuan didesanya  belum mampu menghidangkan cecenge, ada anggapan/guyonan bahwa gadis tersebut belum diberikan izin untuk kawin.

" Itu hanya istilah pejorak an (candaan), sifatnya tidak mengkultus seseorang. Dengan cara itu kita dapat mendorong anak anak gadis untuk mau belajar mewariskan tradisi kuliner yang sudah turun temurun” , ungkapnya dalam bahasa Sasak.

Jenis: