Pengelolaan Sampah di Destinasi Wisata Harus Jadi Prioritas Pemerintah

Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan provinsi yang mendapatkan penghargaan dalam bidang pariwisata dengan prestasi Wisata Halal Terfavorit pada tahun 2019. Penghargaan ini menjadi tantangan terbesar bagi Pemerintah Provinsi untuk terus melibatkan semua elemen masyarakat untuk terus menjaga kebersihan lokasi wisata dari sampah. Bulan Maret 2019 lalu ada 3 kapal pesiar besar yang hendak datang ke Lombok. Namun dibatalkan karena alasan sampah yang banyak di lokasi wisata dan faktor recovery pasca gempa masih terus dilakukan. Hal ini tentu akan membuat wajah wisata NTB menjadi kurang bagus terutama dalam hal butuknya pengelolaan sampah di tempat pariwisata bagi wisatawan mancanegara yang hendak berkunjung ke Lombok.

Program NTB Zero Waste yang dicanangkan oleh Pemerintah Provinsi NTB nampaknya masih belum menyentuh ranah pariwisata. Di sebagian besar tempat pariwisata nampaknya pengelolaan dan pengurangan sampah masih belum berjalan secara maksimal. Masyarakat kita sekarang yang menjadi pengelola wisata nampaknya masih belum sadar tentang hal ini. Padahal dalam menjalankan pariwisata pasti ada“Hidden Cost” yang ditimbulkan. Kebanyakan para pengelola wisata tidak menyadari hal ini, mereka hanya memikirkan jumlah wisatawan yang harus terus naik. Padahal jika wisatawan semakin naik tentu akan menambah jumlah biaya hidden cost. Hidden cost ini yaitu biaya pengelolaan sampah yang ditimbulkan oleh wisatawan yang berkunjung ke tempat wisata.

Pemerintah dengan dibantu para pengelola wisata di tempat tersebut tentu harus menyadari hal ini. Jika dibiarkan terus menerus, maka biaya untuk mengelola sampah para wisatawan yang datang berkunjung tentu akan semakin besar. Bahkan melebihi keuntungan yang didapatkan dari hasil mengelola wisata tersebut. Maka mulai dari sekarang, pemeintah harus mulai membenahi pengelolaan sampah yang berada di tempat wisata, diantaranya yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:

Pertama, Menyediakan Bak Sampah yang Memadai, Sampah yang ditimbulkan dalam pariwisata tentu akan banyak, sehingga perlu dilakukan pemilahan jenis sampah agar tidak tercampur dan berakhir di Tempat Pembuangan Akhir. Maka langkah kecil yang harus dilakukan adalah dengan menyediakan beberapa bak sampah yang memadai, agar para wisatawan bisa membuang sampah sesuai dengan jenis sampah yang dihasilkan. 

Tiga Jenis Bak Sampah yang harus ada di setiap lokasi wisata, agar para wisatawan bisa membuang sampah sesuai dengan jenisnya masing-masing

Kedua, Membuat Aturan Agar Wisatawan Tidak Membawa Sampah Sekali Pakai, aturan mengenai pengelolaan sampah di tempat pariwisata juga harus dibuat. Hal ini akan menjadi landasan bergerak bagi pemerintah dan para pengelola pariwisata untuk melakukan sosialisasi kepada para wisatawan untuk tidak menggunakan sekali pakai. Jika masyarakat sudah mulai sadar tentang aturan ini dan dampaknya bagi keberlangsungan lingkungan kedepannya, maka dengan aturan ini dapat mengurangi jumlah timbulan sampah di tempat wisata.

Ketiga, Menyediakan Water Station (Tempat Pengisian Ulang Air Minum), dibeberapa kota besar sudah mulai menyediakan tempat pengisian ulang air bagi para pengunjung yang datang berkunjung. Salah satunya di Jakarta dan Bandung. Masyarakat diminta untuk membiasakan diri menggunakan tumbler (botol air minum) untuk mewujudkan zero waste. Hal ini berdampak besar bagi pengurangan jumlah timbulan sampah ynag ditimbulkan dari Air Minum Dalam Kemasan (AMDK).

Ilustrasi Water Station untuk Mengurangi Penggunaan AMDK 

Dan terakhir, Membuat Bank Sampah di Setiap Lokasi Wsiata, Bank sampah tentu memiliki peran yang sangat besar untuk membantu mewujudkan zero waste dalam pengelolaan timbulan sampah yang ada. Dengan adanya bank sampah ini, tentu diharapkan dapat membantu mengelola sampah yang ada di lokasi wisata. Dengan begitu, hidden cost yang dikhawatirkan dapat ditangani dengan mudah.

 

Jenis: