Totalitas Mengungsi, Bapak ini Sulap Tenda Menjadi RTG

Tak melulu duka, ada cerita unik yang ditinggalkan pasca gempa bumi yang melanda Lombok beberapa waktu lalu. Saat itu, seluruh masyarakat memilih mengungsi di dalam tenda dibandingkan mengambil resiko tinggal di dalam rumah. Siapa yang menyangka? Meski saat-saat itu telah lewat, namun masih ada warga yang justeru betah tinggal di pengungsian.

Muhammad Safwan (46) bersama istrinya Fitriah (41) dan Muhammad Yusuf Zakka Sadida (10) anaknya, adalah satu keluarga yang betah tinggal di pengungsian. Keluarga yang berasal Desa, Abian Tubuh Baru. Kecamatan, Sandubaya tersebut mengaku justeru kini hanya mampir beberapa kali saja ke rumahnya. Tak tanggung-tanggung mereka merombak tempat pengungsian tersebut menjadi hunian tetap yang tahan gempa.

“Sebenarnya rumah kami yang sebelumnya baik-baik saja. Tapi kami merasa lebih nyaman tinggal di sini,” tutur Safwan.

Di tanah seluas 1,5 are, mereka mengukuhkan tempat pengungsian mereka menggunakan kalsiboard dan spandek yang tahan gempa. Menjadi hunian tetap yang nyaman ditinggali. Safwan membagi ruangan menjadi 5 bagian, sebuah kamar tidur, sebuah ruang tamu merangkap mushala, dapur, kamar mandi, dan teras. Tak tanggung-tanggung lantainya pun di sulap menggunakan keramik.

“Kira-kira totalnya 20 sampe 30 jutaan membangun rumah ini. Yang terpenting kenyamanan dan keamanannya,” tambahnya.

Safwan kemudian kembali menceritakan malam saat gempa 7 sr mengguncang Lombok. Saat itu mereka sekeluarga tengah berpencar. Ia sendiri tengah dalam perjalanan pulang di dalam pesawat, istrinya tengah di jalan, sementara anak semata wayangnya sedang di pondok pesantren bersekolah.

“Anak saya yang paling trauma saat itu, karena ia melihat temannya sendiri meninggal tertimpa reruntuhan. Dia sudah coba bangunkan tapi ndak mau. Sejak itu dia paling takut berada di dalam ruangan beton. Makanya dia alasan kita membuat hunian yang tahan gempa,” tandasnya.

 

Kini satu persatu barang-barang dari rumah mereka sebelumnya dipindahkan. Mereka menghabiskan hari-hari di mana dulu mereka membangun tenda pengungsian. (novita-tim media)