Tradisi “Pesilaq” yang ramah lingkungan dan ramah di kantong

Kartu undangan saat ini merupakan satu item yang sangat penting saat seeseorang akan melangsungkan perayaan pernikahan. Biasanya seseorang bisa menyebar 300 sampai 1000 lebih kartu undangan. Kartu undangan ini biasanya akan dicetak di dalam beberapa jenis kertas seperti kertas karton, kertas Jasmine,  Ivory, Art Paper, hingga Matt Paper, yang mana merupakan kertas yang teksturnya lebih keras dari kertas biasanya. Undangan-undangan ini akan disimpan bagi seseorang yang hobby mengoleksinya, tetapi sebagian besar akan berakhir di bak sampah setelah acara usai.

 

Secara tidak langsung, undangan ini salah satu penyumbang sampah yang cukup besar. Tak hanya sampah kertas, sampah plastik untuk membukus undangan juga perlu diperhatikan. Bayangkan, menurut data BPS tahun 2015 di Nusa Tenggara Barat tercatat sebanyak 6.212 pasangan melangsungkan pernikahan, jika separonya saja mengadakan resepsi makan ada 3.000 lebih sampah kertas dan plastik yang dihasilkan oleh undangan. Dan ini masih di wilayah Nusa Tenggara Barat saja, belum lagi se-Indonesia.

 

Belakangan, memang undangan elektronik menjadi trend tersendiri di kalangan generasi milenial. Tetapi jika mengulik lebih dalam, di Pulau Lombok Provinsi Nusa Tenggara Barat memiliki tradisi unik dalam undang-mengundang yang ramah lingkungan dan ramah di kantong. Tradisi tersebut adalah “Pesilaq”. Penulis sendiri belum menemukan literasi yang tepat tentang tradisi pesilaq, sejak kapan dan bagaimana tradisi ini dilakukan. Yang jelas Pesilaq merupakan cara tradisional mengundang tamu dalam suku Sasak yang telah dilakukan sejak lama. Dalam Tahapan Tradisi Begawe (hajatan) dalam Perkawinan Suku Sasak, Pesilaq merupakan rukun wajib yang harus dijalani. Caranya, dengan mengirimkan seorang atau lebih utusan untuk mengundang secara lisan.

Pesilaq sendiri kurang lebih berarti mempersilahkan dalam bahasa sasak. Tata cara Pesilaq tak bisa sembarangan. Sebagai utusan pesilaq harus datang langsung ke rumah yang diundang. Mereka harus duduk bersila dan berhadap-hadapan baru boleh menyampaikan undangan. Jadi jika si utusan Pesilaq ini bertemu dengan orang yang diundang di  tengah jalan, mereka harus berjanji bertemu di rumah terlebih dahulu. Dilihat dari penjelasan tersebut, selain dapat menghemat anggaran untuk undangan dan tidak menyumbang sampah kertas serta plastik, tradisi pesilaq juga dapat menjadi tali penyambung silaturahmi yang baik. Karena tidak dilakukan secara tergesa-gesa dan dipastikan dilakukan secara langsung dari pintu ke pintu.  Menggunakan tradisi pesilaq sebagai alternatif undangan mendapatkan pro dan kontra di kalangan milenial. Ada yang sepakat bahwa tradisi ini masih bisa dilakukan, begitu juga sebaliknya. Ulvianika Estatia, salah seorang ibu muda asal Jerua Lombok Timur ini mengaku sepakat dengan ide tersebut. 

 

“Iya kedengeran jadi lebih hemat yah, tapi harus ada utusan pesilaq, kalo di kampung-kampung masih mudah dilakukan. Kalau di kota-kota harus ada panitia pernikahan yang solid baru bisa dilakukan,” jelas perempuan kelahiran 1996 tersebut.

 

Berbeda dengan Ulvi, Bayu Andipa seorang pemuda yang baru melangsungkan pernikahannya awal tahun lalu mengaku Tradisi Pesilaq jika digunakan untuk mengundang resepsi sekarang ini menjadi kurang efisien. Hal tersebut karena zaman sekarang orang-orang memiliki mobilitas yang tinggi sehingga susah untuk ditemui di rumah.

 

“Tapi, kalau acaranya tidak terlalu besar seperti syukuran dan sejenisnya sepertinya masih bisa dilakukan,” pukasnya.

Terlepas dari masih bisa dilakukan atau tidak, baik Ulvi dan Bayu sepakat bahwa Tradisi Pesilaq memang tergolong tradisi yang ramah lingkungan dan ramah di kantor. Keduanya berharap tradisi ini tidak lekang dimakan zaman. (Ricko Rullyarto)

Jenis: