UMKM NTB Bersaing dalam Ajang KKI di Jakarta

"UMKM Bersaing" yang menjadi salah satu program unggulan Pemerintah Provinsi NTB tak hanya ada dalam RPJMD 2019-2023. Pasalnya, dalam ajang Karya Kreatif Indonesia di Jakarta pada (12-14/7) yang lalu, UMKM asal Provinsi NTB berhasil menjadi sorotan Nasional.

Dalam ajang yang diikuti 370 UMKM dari seluruh provinsi di Indonesia tersebut, Provisi NTB membawa 15 produk UMKM unggulan binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB yang memiliki nilai otentik, menonjolkan budaya daerah, mengangkat citra daerah, memiliki nilai ekonomis tinggi, dan berkualitas ekspor. Tak kurang dari 7 (tujuh) UMKM kategori kain dan 8 (delapan) UMKM kategori kerajinan dari Provinsi NTB ikut tampil dalam ajang yang dihadiri langsung oleh Presiden Indonesia, Ir. Joko Widodo. Presiden Joko Widodo juga membuka acara KKI 2019 dengan memukul gendang beleq yang merupakan alat musik khas Provinsi NTB, kemudian dilanjutkan dengan peragaan busana berbahan tenun.

"Sampai dengan hari kedua stan Provinsi NTB membukukan penjualan hingga Rp590 juta. Semoga hal ini terus menjadi momentum bagi UMKM di Provinsi NTB untuk terus mengembangkan usaha dengan merambah pasar nasional dan internasional yang masih terbuka lebar," tutur Achris Sarwani, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB.

Pada kesempatan tersebut, Achris Sarwani menjelaskan kepada Presiden RI mengenai stan dengan konsep industri fashion yang mensinergikan kekayaan tenun berkualitas yang kaya ragam, kerajinan etnik dan aksesoris berbahan mutiara, serta busana ready to wear karya designer Provinsi NTB.

Dalam peragaan busana, kain tenun dari Provinsi NTB menjadi salah satu yang terpilih yang digunakan oleh designer nasional Toton Januar. Yang istimewa lagi, stan KPwBI Provinsi NTB mendapatkan kesempatan pertama sebagai stan yg dikunjungi oleh Presiden RI.

Berlanjut pada business matching , salah satu UMKM binaan Kantor Perwakilan BI Provinsi NTB yang memiliki produk kopi, menjadi UMKM terpilih untuk melakukan ceremony penandatanganan  kontrak kerjasama bersama buyer dari Korea dengan penjualan 36 ton biji kopi dengan nilai sebesar Rp1,01 Miliar. 

NTB pada 2016 berdasarkan data dari Dinas Koperasi dan UMKM terdapat lebih dari 644 ribu unit UMKM dengan jumlah tenaga kerja yang terserap lebih dari 1,8 juta orang. Achris Sarwani mengatakan kebijakan pengembangan UMKM juga sebagai upaya mendukung tugas utama BI dalam menjaga stabilitas moneter, stabilitas sistem keuangan, dan keandalan sistem pembayaran.

"Selama 2018, KPw BI NTB telah melakukan berbagai program pengembangan UMKM seperti program pengembangan klaster, program Wirausaha Unggulan Bank Indonesia (WUBI) dan program Wirausaha Perempuan Bank Indonesia (WPBI)," ujar Achris di Mataram, NTB, Rabu (16/1).

Achris menjelaskan, program pengembangan klaster yang dilakukan KPw BI NTB terbagi menjadi tiga jenis, yakni klaster ketahanan pangan yang bertujuan untuk pengendalian inflasi komponen bergejolak, klaster Local Economic Development (LED) atau pengembangan ekonomi lokal yang bertujuan untuk mendukung pengembangan komoditas unggulan daerah, dan klaster berbasis pariwisata yang mendukung pengembangan sektor pariwisata. 

Pada program tersebut, dia katakan, KPw BI NTB memberikan bantuan teknis berupa pelatihan, studi banding, penguatan kelembagaan, serta bantuan sarana prasarana. Achris menyebutkan, pada 2018, jumlah klaster ketahanan pangan yang dibina sebanyak lima klaster meliputi klaster Bawang Putih di Lombok Timur, klaster Sapi di Sumbawa, klaster Sapi di Lombok Utara, klaster Cabai di Lombok Timur, dan klaster Padi di Lombok Tengah. Untuk klaster LED, terdapat dua klaster yang dibina seperti klaster Gula Aren di Lombok Barat dan klaster Kopi di Sumbawa, sedangkan jumlah klaster berbasis pariwisata yaitu klaster tenun Pringgasela di Lombok Timur.

Selain program pengembangan klaster, lanjut Achris, BI NTB juga memiliki program Wirausaha Unggulan Bank Indonesia (WUBI) 2018 dengan jumlah peserta sebanyak 15 wirausaha. Dalam program tersebut, para peserta diberikan berbagai pengetahuan, baik softskill maupun hardskill untuk menjadi seorang wirausaha unggulan. (Novita – tim media, berbagai sumber).