Welcome to Diskominfotik NTB Official Website

(0370) 644264

Berita

Fitnah, Ibarat Bulu Ayam Terbang Mengangkasa

Fitnah, Ibarat Bulu Ayam Terbang Mengangkasa

Hadir sebagai narasumber pada acara seminar bertema "Generasi Millenial Anti HOAX: Mentradisikan Tabayun dalam merespon isu-isu politik" yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Pemikiran Politik Islam (PPI) Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama (FUSA) Universitas Islam Negeri Mataram, Senin (19/11).

Sekretaris Dinas Kominfotik NTB, Ach. Fairuz Abadi menyampaikan perumpamaan Hoax (Fitnah) dalam sebuah cerita menarik. Cerita ini mewarnai kehidupan seorang santri dan Kyai dalam sebuah pondok pesantren. Meskipun keabsahan cerita ini tidak perlu diperdebatkan, sebab kisah ini dikemas dengan sejuta hikmah dan pelajaran bagi generasi milenial saat ini.

Dikisahkan, ada seorang santri yang suka memfitnah kyai-nya. Santri tersebut hampir tiap hari membicarakan kejelekan dan menyebarkan hoax tentang kehidupan Kyai. Sehingga kehidupan Kyai selalu di hantui oleh berita-berita buruk tentangnya, fitnah ini terus terdengar dari mulut ke mulut tanpa ada sekat-sekat yang membatasi. 

Setelah fitnah ini terlanjur terbang mengangkasa, kemudian santri itu mulai menyadari bahwa apa yang dilakukan selama ini adalah fitnah yang sangat keji. Ia pun ingin mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada Kyai. 

"Kyai, saya ingin meminta maaf atas kesalahanku karena telah memfitnah pak Kyai sekaligus saya siap dihukum seberat-beratnya karena perbuatanku ini, agar saya dapat menjalani hidup dengan tenang dan menebus semua kesalahanku," harap santri kepada Kyainya.

Kyai pun mengatakan "Aku akan maafkan engkau. Tapi ambilkan sebuah kemoceng (Sapu Bulu Ayam). Kemudian kamu kembali ke rumahmu, disepanjang jalan kamu cabut bulu-bulu ayam tersebut hingga sampai depan rumah saya," perintah kyai kepada santri tersebut.

Kemudian santri itu bergegas mengambil kemoceng dan mencabut bulu-bulu ayam, helai demi helai bulu ayam dicabut hingga tersisa hanya tangkainya saja.

"Ini hukuman yang sangat ringan pak Kyai, tidak adakah hukuman yang lebih berat dari ini? Dengan bangga santri itu menganggap bahwa hukuman tersebut sangatlah ringan. 

"Tidak. Kemudian kamu kembali dan kumpulkan semua bulu ayam yang engkau cabut disepanjang perjalananmu, supaya kamu dapat mengambil pelajaran dari peristiwa ini," ungkap Kyai dengan nada sedikit kecewa.

Karena ingin mendapatkan maaf dari Kyai. Akhirnya santri pun segera kembali dan mencari bulu-bulu ayam yang ia cabut. Setelah dicari, ternyata santri itu hanya mendapatkan dan membawa pulang beberapa helai bulu ayam dari ratusan bulu yang dicabut.

"Saya hanya mampu mengumpulkan beberapa helai bulu ayam pak kyai. Apa pelajaran yang dapat saya ambil pak Kyai," tanya santri kepada Kyai.

Kemudian kyai mengambarkan tentang fitnah yang selama ini santri sematkan padanya.

"Itulah fitnah yang engkau lontarkan kepada saya, fitnah itu ibarat bulu ayam yang engkau cabut. Bulu itu terbang mengangkasa menempel di atas pohon, terhempas oleh lalu lalang kendaraan dan menempel di mana-mana. Saya maafkan kamu sekalipun kata-kata itu akan terbang di udara masuk disetiap telinga setiap orang, kemudian dikeluarkan oleh mulut-mulut orang hingga cerita tersebar di mana-mana. Kamu matipun dan saya matipun juga, kata-kata itu akan membunuh setiap orang karena fitnahmu," jelas kyai kepada santri dalam kisah tersebut.

Tepuk tangan pun terdengar dari puluhan mahasiswa yang hadir dalam seminar itu. Usai bercerita tentang kisah tersebut, Fairuz Abadi berharap kepada generasi UIN Mataram untuk tidak menyebarkan fitnah (Hoax).

 

"Akankah kita mencetak generasi-generasi pembunuh lewat mesin-mesin fitnah atau hoax?," ungkap Fairuz. (Man/tim media)