Rinjani dalam perspektif sejarah, budaya dan spiritual masyarakat adat sasak disampaikan L.Satria Wangsa pada Seminar Interpretasi pada Studi Komparasi Geopark Rinjani - Lombok dan Batur UNESCO Global Geopark, bertempat di Museum Negeri NTB, Mataram (23/05/17).
Seminar ini sangat berkesan dan mendalam menceritakan hebatnya letusan Samalas Rinjani sebagai asal mula sejarah Sasak.
"Dalam Babad Lombok (pupuh 175-194) di Bayan inilah muasal Suku Sasak dan menyebar kepenjuru Lombok hingga abad ke 7", jelas L.Satria.
Terdapat kerajaan Pamatan kerajaan klasik dengan peradaban tinggi dipimpin Raja Manca Mantri dengan pengembangan perdagangan maju, memiliki benteng kota, jalan-jalan lurus, taman bunga dan penduduknya memeluk agama Budha hidup dan berkembang di Pulau Lombok, lalu Samalas meletus meluluhlantahkan semuanya.
"Kerajaan Pamatan hancur oleh letusan Samalas, inilah yang terekam dalam sejarah", ucapnya meyakinkan.
Letusan Samalas menandakan berakhirnya era kuno sasak memasuki era baru.
Pengungsianpun terjadi dari turunan Raja-raja yang menyebar ke Teluk Lombok, Pejanggik, Langko, Sembalun, Benua, Bayan, Sokong dan Taliwang yang menjadi cikal bakal Kedatuan atau Raja-raja lanjutan.
Meletusnya Samalas sangat fenomenal hingga Eropa dan hasil survei membuktikan tahun 2013 tim Frank Lavigne dari Prancis, tahun 1257 terjadinya bencana dasyat lebih puluhan ribu warga eropapun meninggal.
Bersamaan dalam sejarah juga menyatakan peradaban Islampun berakhir yaitu Daulah Abasyah tahun 1258 M.
"Inilah hebatnya Samalas Rinjani sebagai puncak Gumi Sasak atau Pasak Gumi. Bila pasaknya goyah maka pulau Lombok juga akan goyah" pungkasnya.
Cerita lontar ini dibacakan Mamiq Jati Suare dan diterjemahkan oleh Mamiq Risaji yang merupakan budayawan lokal masyarakat sasak.
Seminar ini berlangsung sehari, dibuka resmi Dr. Faturahman dengan narasumber L. Satria Wangsa dan Dr. Kamarudin atas kerjasama Dinas Pariwisata, Museum Negeri Mataram, Bappeda dan Batur Unesco Global Park.
Ajik -IKP Diskominfotik NTB